About The Trans
Jika Anda merencanakan perjalanan ke Komodo bersama rombongan besar atau menginginkan fleksibilitas charter pribadi tanpa mengorbankan kenyamanan, The Trans menawarkan keseimbangan sempurna antara ukuran dan layanan. Dengan panjang 58 meter, kapal ini dirancang untuk melintasi laut terbuka dengan stabil—penting saat menyeberang dari Pulau Komodo ke Padar saat fajar. Dengan hanya dua kabin, sebagian besar kapal didedikasikan untuk ruang bersama: dek jati luas, area bersantai yang teduh, serta zona makan tempat rombongan bisa leluasa berkumpul. Tata letak ini sangat ideal untuk kelompok teman atau keluarga besar yang menghargai waktu istirahat sama seperti waktu petualangan.
Hari-hari Anda diatur untuk memaksimalkan cahaya alami dan menghindari keramaian. Anda tiba di Labuan Bajo sekitar siang hari, menyelesaikan proses check-in ke kabin, lalu berlayar ke Pulau Menjerite pada akhir sore. Tempat ini menjadi alternatif yang lebih tenang dibanding Kelor, dengan gundukan pasir yang muncul saat air surut—sempurna untuk berjalan di laut dangkal atau renang pertama di Laut Flores. Saat matahari mulai tenggelam, Anda akan melihat warna kemerahan memantul di permukaan air, gambaran awal dari keindahan Pantai Pink. Kapal berlabuh di dekatnya, memungkinkan Anda menikmati malam yang tenang tanpa gangguan dari kapal wisata harian.
Hari kedua dimulai lebih awal. Anda sudah berada di dek pukul 05.30 saat kapal melewati Pulau Padar, menyaksikan matahari terbit di atas garis pantai yang berbatu. Setelah sarapan, Anda akan mendaki puncak bukit untuk mendapatkan pemandangan panorama ikonik—dengan lebih sedikit orang dan cahaya yang lebih baik. Pada pertengahan pagi, Anda berkunjung ke Pulau Komodo untuk tur berpemandu bersama ranger melihat Komodo dragon di savana. Kru menjadwalkan kunjungan ini agar terhindar dari terik siang dan keramaian turis. Lalu, sekitar tengah hari, Anda tiba di Pantai Pink untuk snorkeling di teluk yang kaya karang atau berjalan di sepanjang pantai sambil menikmati makan siang yang disajikan di dek. Di sore hari, Anda mengapung perlahan di Manta Point dekat Banos atau Karang Makassar, di mana arus membawa pari manta mendekat ke permukaan—snorkeler sering mendapat kontak mata langsung.
Di hari terakhir, Anda akan mengunjungi Taka Makassar, gundukan pasir yang muncul saat air surut, sangat ideal untuk sesi foto atau renang terakhir. Dari sana, kapal berlayar singkat ke Pulau Kanawa, tempat Anda bisa snorkeling di tebing bawah laut di sisi utara atau sekadar bersantai di hammock. The Trans berangkat menuju Labuan Bajo pada pertengahan sore, memberi waktu cukup untuk berkemas dan merenungkan perjalanan. Dengan kapasitas 20 orang, The Trans sering dipesan sebagai charter pribadi, sehingga itinerary bisa sedikit diubah—misalnya, mengganti Kalong dengan Sebayur jika rombongan lebih memilih jelajah bakau yang tenang daripada menonton kelelawar.
Ukuran kapal membuatnya kurang lincah di teluk sempit dibanding phinisi kecil, tetapi justru lebih stabil menghadapi ombak Laut Savu, terutama di bulan-bulan transisi. Stabilitas ini menjadikannya pilihan praktis jika Anda bepergian pada Oktober atau November saat angin mulai kencang. Karena hanya ada dua kabin, sebagian besar tamu memesan keseluruhan kapal. Jika Anda bergabung dalam trip berbagi, fasilitas kabin akan digunakan bersama, tetapi tetap tersedia banyak ruang di dek untuk menemukan tempat pribadi. Makanan disajikan secara prasmanan dengan hidangan khas Indonesia seperti nasi goreng dan ikan bakar segar, serta pilihan Barat berdasarkan permintaan.










