About Nayara Yacht
Kami tetap menyalakan lampu haluan melewati tengah malam selama pelayaran musim timur antara Sebayur dan Komodo. Dengan panjang 45 meter, Nayara Yacht mampu menangani ombak Selat Linta lebih baik daripada kebanyakan phinisi seukurannya, tetapi kami tetap menjadwalkan pelayaran pada saat air tenang—terutama bila tamu telah menghabiskan hari dengan mendaki punggung timur Padar. Lunas kapal dipasang tahun 2018 di Sulawesi, dengan sambungan tuk tuk tradisional di buritan dan kayu keras yang dilapisi epoksi di bagian depan. Nayara Yacht memiliki kedalaman 3,2 meter, sehingga bisa masuk ke teluk-teluk dangkal seperti Taka Makassar saat angin bertiup kencang dari Sumbawa.
Kebanyakan kapal VVIP menyediakan tujuh kabin tersebar di tiga dek. Tidak demikian dengan kapal ini. Hanya satu kabin—suite utama seluas 18 meter persegi, tempat tidur king permanen, tanpa konversi. Sisa ruang digunakan sebagai lounge terbuka dengan meja peta berpermukaan jati, sofa bentuk L yang bisa menampung dua anak di bawah 12 tahun jika diperlukan, serta sky deck dengan tempat bersandar empuk yang terpasang kuat di sisi kanan kapal. Saat semua 17 tempat tidur terisi, kami beroperasi dengan dua kru: satu bertugas, satu istirahat di kamar kru di buritan. Kami pernah menyewakan kapal secara eksklusif untuk fotografer yang ingin mengambil posisi matahari terbit di dekat Pulau Kalong—tanpa mesin menyala, hanya hanyut dan memotret.
Hari pertama biasanya dimulai dengan kedatangan tamu melalui penerbangan sore di Labuan Bajo. Tim kami menjemput langsung di terminal, melewati antrian dermaga dengan prosedur bea cukai khusus, dan naik kapal pukul 16.00. Aktivitas menyelam atau snorkeling pertama dilakukan di Menjerite—terumbu dimulai dari kedalaman 1,5 meter, bintang laut biru berkumpul di sekitar bommie karang. Kami berlabuh di sisi selatan, di mana arus mengalir pelan dan jernih. Pukul 18.30, semua tamu sudah berada di sky deck dengan minuman soda jeruk dingin, menyaksikan matahari menyentuh punggung Padar.
Hari kedua berarti pelayaran dini hari menuju Padar. Kami berlabuh di Teluk Batu Tiga pukul 05.45. Pendakian dimulai 30 menit kemudian—jalur barat laut, lebih sedikit bebatuan longsor, pegangan lebih baik. Kembali ke kapal pukul 08.30, lalu berlayar ke selatan menuju Desa Komodo untuk tur berjalan bersama ranger di Loh Liang. Kami menyediakan handuk dingin dan sachet elektrolit dalam tas harian—dari Juli hingga Oktober, suhu daratan mencapai 36°C pada pertengahan pagi. Setelah makan siang, kami berpindah ke Pink Beach untuk snorkeling dangkal di atas hamparan foraminifera, lalu hanyut di Manta Point dekat Karang Makassar dengan umpan ubur-ubur permukaan untuk mendekatkan pari.
Pagi terakhir, kami mulai berlayar pukul 06.00 menuju Taka Makassar. Gundukan pasir muncul saat air surut sekitar pukul 09.00—kera pemakan kepiting menyeberang dari Kanawa menggunakan serpihan apung. Kami menyiapkan stand-up paddleboard pukul 08.30, melakukan pengecekan peralatan untuk snorkeling terakhir, lalu kembali ke Labuan Bajo pukul 13.00. Jika angin berada di belakang, kami mematikan mesin dan membiarkan layar menangkap angin naik dari Banta.










