About Silolona
Hal pertama yang saya perhatikan bukan ukuran Silolona, tapi kesunyiannya. Pukul 18.17, tak lama setelah berlabuh di dekat Kelor, mesin mati dan satu-satunya suara adalah percikan air di lambung. Tidak ada dengung genset, tidak ada derit kerekan. Awak kapal sudah menyiapkan kursi rendah di dek atas, menghadap barat. Saya menyaksikan matahari tenggelam di balik punggung terjal Rinca, mengubah langit menjadi jingga koral yang senada dengan warna pantai di bawah. Ini bukan pertunjukan semata — rasanya sengaja, tanpa terburu-buru. Seolah kapal itu sendiri sedang menarik napas.
Silolona tidak memamerkan kemewahan; ia menganggapnya sebagai hal yang wajar. Dengan panjang 50 meter, kapal ini cukup panjang untuk meluncur melewati ombak tanpa goncangan, namun lincah mencari teluk terpencil seperti Sebayur, tempat kami berlabuh pagi hari kedua. Susunan satu kabin berarti Anda tidak berbagi ruang — atau pemandangan. Tempat tidur king menghadap jendela setinggi kapal, dibingkai kayu jati yang begitu halus hingga memantulkan cahaya bulan di malam hari. Tidak ada minibar yang berantakan, hanya sebotol Riesling lokal yang didinginkan dan catatan tertulis rapi berisi lokasi snorkeling hari itu. Kamar mandi dilengkapi shower hujan yang air panasnya mengalir selama 20 menit — jarang ditemui di kapal phinisi — serta perlengkapan mandi dalam wadah keramik yang bisa dipakai ulang, bukan plastik.
Hari-hari kami mengikuti irama yang terasa lebih seperti naluri daripada jadwal. Pukul 05.30, kopi sudah muncul di dek tanpa perlu diminta. Pukul 06.15, kami sudah berada di tikungan pertama Padar, dengan awak kapal yang mengatur waktu pendaratan agar kami tiba di puncak saat matahari muncul dari cakrawala, menerangi lengkungan tiga teluk seperti peta topografi yang hidup. Setelah mengamati Komodo berjalan perlahan di jalur Loh Liang, kami snorkeling di Manta Point siang hari, di mana kapal diposisikan tepat di jalur arus sehingga kami bisa hanyut bersama pari-pria yang sedang makan. Awak kapal tidak berteriak memberi instruksi — mereka hanya menyerahkan sirip dan menunjuk ke arah aliran air.
Makanan disajikan di mana pun terasa pas: ikan bakar di dek belakang siang hari, sate di bawah bintang dengan lampu tiang yang diredupkan. Dapur di bawah dek berjalan seperti dapur restoran Michelin yang berlayar — setiap rempah disangrai, setiap saus dibuat dari nol. Saya masih ingat kuah asam jawa dengan ikan kerapu lokal, dimakan pukul 20.00 di lepas Kanawa, satu-satunya suara adalah denting sendok dan sesekali percikan cumi yang sedang berburu. Tidak ada musik, tidak ada hiburan paksa. Hanya makanan, laut, dan aroma hujan yang baru menyentuh papan dek panas.
Pagi terakhir, kami berlabuh di Taka Makassar. Gugusan pasir saat air surut, airnya dangkal dan jernih hingga bisa melihat pola cangkang laut. Awak kapal mengeluarkan kayak dan papan dayung mengambang, tapi tanpa tekanan untuk menggunakannya. Salah satu anak buah kapal, Pak Wayan, duduk di haluan sambil memetik ukulele dengan nada rendah. Ini bukan pertunjukan. Ini hanya yang terjadi ketika kapal yang begitu selaras dengan lingkungannya berhenti sejenak. Meninggalkan kapal terasa bukan seperti turun dari kapal, melainkan seperti dikembalikan perlahan ke daratan.










