About La Dyana
Cahaya pagi pertama datang lembut dan keemasan menyusuri haluan, menghangatkan dek kayu di bawah telapak kaki telanjang saya. Saya ingat berdiri di sisi kapal dengan secangkir kopi lokal yang kuat, memandangi siluet Pulau Kelor yang semakin jelas dalam kabut. Kami tiba larut malam sebelumnya, mengantuk setelah perjalanan transfer, tetapi La Dyana langsung terasa nyaman—kayu yang mengilap, sprei yang rapi, dan dengung tenang kapal yang berlabuh di teluk. Matahari terbit pertama itu membuat semuanya terasa nyata: kami kini berada di dalam taman nasional, dikelilingi pulau-pulau yang tampak seperti baru saja jatuh dari mimpi.
La Dyana dirancang untuk kelompok kecil—hanya satu kabin untuk kami berdua, tetapi kapal ini bisa menampung hingga 14 orang di empat kabin secara keseluruhan. Kami mendapat suite utama di bagian belakang, yang artinya akses mudah ke dek dan lebih sedikit anak tangga menuju area makan. Tata letaknya terasa masuk akal setelah satu atau dua hari: ruang makan di depan dengan bangku mengelilingi, dapur tepat di belakangnya, dan dek atas dengan tempat bersantai yang teduh. Meski tidak terlalu besar, dengan panjang 25 meter, kapal ini tidak pernah terasa sesak. Enam awak kapal tahu kapan harus muncul dan kapan harus menghilang, menyajikan makanan tepat waktu, serta menyiapkan peralatan snorkeling tanpa diminta.
Hari kedua dimulai sebelum matahari terbit saat kami mendekati Padar. Kami mendaki jalur berkelok dalam gelap yang sejuk, sampai ke puncak saat cahaya pertama menyinari pemandangan tiga teluk—pasir merah muda, air biru kehijauan, dan punggung gunung berapi. Setelah mendaki, berenang panjang di Pink Beach menghilangkan keringat, dengan karang-karang di bawah permukaan yang dipenuhi ikan kakatua dan ikan badut. Kemudian, di Manta Point, saya mengapung di atas stasiun pembersihan, menyaksikan empat manta meluncur dalam lingkaran perlahan di bawah saya, mulut mereka terbuka, siripnya menutupi cahaya matahari. Kapal berlabuh tak jauh, siap dengan handuk dan teh hangat saat kami kembali naik.
Di pagi hari terakhir, kami berlayar ke Taka Makassar—kadang disebut 'pulau pasir di tengah ketiadaan.' Saat air surut, hanya ada sepetak pasir putih dari koral, tetapi saat kami tiba, setengahnya terendam, sempurna untuk berenang ke segala arah dengan biru yang tak berujung di cakrawala. Kami snorkeling di tepian tempat arus membawa ikan barakuda dan hiu karang, lalu hanyut kembali ke Kanawa untuk melihat sekali lagi pantai pasir hitam dan kerucut vulkanik di belakangnya. Perjalanan kembali ke Labuan Bajo terasa tak terhindarkan, tetapi tidak terburu-buru—makan siang disajikan dalam perjalanan, hidangan terakhir dari ikan bakar, sambal, dan mangga segar.
Yang mengejutkan saya adalah betapa lancarnya segala sesuatu berjalan. Tidak ada antrean panjang, tidak ada kebingungan soal peralatan atau jadwal. Awak kapal punya ritme, dan ukuran kapal memungkinkan mereka menyesuaikan saat angin berubah atau spot snorkeling ramai. Ya, kabinnya memang agak sempit, dan kamar mandi bersama butuh kecepatan saat jam sibuk, tapi memang begitulah Komodo. Anda tidak ke sini untuk sprei mewah. Anda ke sini untuk jejak naga Komodo di Pulau Komodo, suara kelelawar buah yang lepas terbang di Kalong, dan cara air berubah menjadi perak saat matahari terbenam. La Dyana memberikan semua itu—dengan tenang, andal, tanpa ribet.










