About Ahsana Liveaboard
Kami tetap menyalakan lampu haluan saat transit malam, bukan karena kewajiban, tapi karena saya sudah terlalu sering melihat kapten lain salah membaca riak pasang di sekitar Sangeang. Di Ahsana, dengan panjang 30 meter, kami punya ruang ekstra—ruang untuk menunggu, menyesuaikan, dan posisi yang tepat. Pekan lalu, kami menunda sandar di Batu Bolong selama satu jam hingga gelombang surut. Hasilnya? Masuk ke air yang tenang untuk snorkeling dan penyelaman tanpa terburu-buru. Dengan maksimal 25 tamu dan tujuh kabin, jadwal kami tidak ketat. Anak buah kapal sudah tahu harus menyiapkan klotok tepat pukul 06:40 saat kami akan ke Padar saat fajar—20 menit lebih awal dari kapal lain, artinya Anda sudah di jalur trek sebelum terik menyengat.
Awak kapal kami sudah berlabuh cukup lama untuk tahu spot mana yang tenang di sore hari. Karena itu kami jadwalkan Manta Point pukul 15:30, saat arus berubah dan pari manta meluncur di sepanjang tepi terumbu seolah sedang mengamati Ahsana Liveaboard. Kami tidak mengejar daftar destinasi. Jacuzzi di dek atas tidak sekadar prop brosur, tapi digunakan sebagai area pemanasan bagi fotografer yang baru kembali dari air dingin di Karang Makassar. Area makan luar ruangan mulai digunakan pukul 07:00, menyajikan pisang goreng dan kopi Flores kental sebelum matahari terbit di Kanawa.
Ahsana menjalankan rute 3D2N dari Labuan Bajo. Hari pertama dimulai dengan kedatangan tamu pukul 12:00, lalu kami berlayar ke Kelor—bukan hanya untuk menikmati matahari terbenam, tapi karena terumbu dangkalnya menyimpan ikan batu muda di perairan dangkal, sangat cocok untuk pemula snorkeling. Kami berlabuh lebih awal agar tamu bisa berenang langsung dari platform belakang tanpa terburu-buru. Pagi berikutnya, pantai utara Padar menyambut Anda pukul 06:50, waktu yang diatur untuk menghindari silau dan keramaian. Setelah trekking, kami berlayar ke Pulau Komodo untuk tur berpemandu melihat Komodo dragon di Loh Liang, lalu santai ke Pink Beach pukul 13:00—cukup lama untuk berenang, makan siang di kapal, dan berjalan ke ujung pantai tempat pasirnya paling memancarkan warna merah muda.
Hari ketiga adalah saat kami memanfaatkan jangkauan kapal secara maksimal. Taka Makassar bukan sekadar pasir putih—di sini laut Banda dan Flores bertemu, jadi kami memberi pengarahan tentang kesadaran arus kepada tamu. Lalu ke Kanawa, tempat awak kapal sudah menyiapkan posisi pantai bertenda sebelum pukul 10:00. Kami berangkat pukul 11:30, bukan karena terpaksa, tapi karena menargetkan tiba di Labuan Bajo pukul 14:00, memberi waktu tambahan bagi yang punya penerbangan malam. Tidak ada kepanikan, tidak ada biaya tambahan.
Kabin dirancang untuk menyeimbangkan pemandangan dan stabilitas. Master Cabin berada di tengah dek utama—hanya satu, dengan tempat tidur king dan akses langsung ke dek. Signature Cabin (dua unit tersedia) memiliki jendela porthole besar menghadap belakang, posisinya di atas permukaan air bahkan saat ombak besar. Kamar Deluxe Balcony membuka ke tempat duduk pribadi—Anda akan menggunakannya saat perjalanan sore antara Sebayur dan Sebayur Kecil, saat angin bertiup dari selat. Bahkan Family Ocean Cabins, meski berada di dek bawah, memiliki strip jendela memanjang yang menangkap cahaya cakrawala saat fajar.










