About Angelica
Kami memposisikan Angelica tepat di luar Kelor saat fajar, membiarkan arus membawa kami masuk dengan halus dan tenang – tidak perlu menurunkan jangkar jika waktu kedatangan tepat. Dengan panjang 38 meter, kapal ini cukup panjang untuk melewati arus kuat Komodo tanpa menggoyang tamu dari tidur, namun lincah untuk menyusup ke teluk terpencil seperti Sebayur atau Taka Makassar, tempat kapal besar tak bisa berputar. Saya sudah menjelajahi jalur ini selama delapan belas tahun, dan saya bisa katakan: phinisi yang seimbang seperti Angelica, dengan dua mesin diesel 420HP, membuat perbedaan besar saat melintasi terumbu saat air tenang.
Angelica memiliki tujuh kabin, masing-masing dinamai berdasarkan kerajinan Indonesia – Candi, Batik, Keris – dan tersusun di dua dek. Kabin VIP Candi berada di bagian depan dek utama dengan ruang kepala ekstra dan tata letak privat yang kami sediakan bagi tamu yang menginginkan lebih banyak ruang. Empat kabin Master – Batik, Keris, Wayang – masing-masing untuk dua orang dengan kamar mandi dalam, ranjang twin atau queen, serta AC yang bisa dikontrol sendiri dan beroperasi sepanjang malam tanpa beban pada sistem. Keluarga menggunakan kabin Sasando – dua kamar bersebelahan dengan pintu penghubung – sementara Tenun dan Tari adalah kamar double privat yang lebih kecil namun berventilasi baik, sering dipilih oleh solo traveler yang berbagi biaya berdua.
Pada rute standar 3 hari, kami menjemput tamu di Labuan Bajo pukul 11 pagi, menyajikan makan siang saat berlayar ke selatan menuju Kelor, dan berlabuh sebelum matahari terbenam untuk pendakian singkat ke puncak pulau. Hari kedua dimulai di Padar sebelum fajar – kami mendarat pukul 6.30 pagi saat cahaya datar dan keemasan, lalu kembali ke kapal untuk sarapan sambil berlabuh di dekat Pulau Komodo. Pagi harinya, kami mengantar tamu ke darat untuk tur Komodo dragon yang dipandu rangers, lalu berpindah ke Pink Beach sekitar siang untuk berenang dan bermain kayak. Setelah makan siang, kami berlayar ke Manta Point – biasanya Batu Bolong – tempat arus membawa ikan pembersih, dan awak kapal menandai zona hanyut dengan pelampung permukaan. Kami menutup hari itu di Pulau Kalong, menyaksikan kelelawar bermunculan dari hutan bakau saat senja.
Hari ketiga ditujukan untuk utara: gundukan pasir Taka Makassar saat air surut, lalu Kanawa untuk snorkeling terakhir di lereng terumbu tempat laut mulai biru pekat. Kami menyajikan kopi dan camilan ringan sebelum kembali ke Labuan Bajo, tiba sekitar pukul 15.00. Jacuzzi di dek atas paling sering digunakan di perjalanan ini – air hangat, riak lembut, dan semua orang rileks setelah tiga hari berlabuh tepat dan menyelam bersih. Kami menyediakan peralatan snorkeling lengkap untuk semua ukuran, dua kayak, serta peralatan keselamatan termasuk VHF, EPIRB, dan sekoci penyelamat 4,2 meter dengan mesin tempel 40HP. Dapur kami menggunakan gas propana dengan oven listrik cadangan, dan makanan disajikan prasmanan – seperti ikan laut bakar, rendang nangka, mangga lokal saat musimnya.










