About Typhoon
Kami berangkat dari Labuan Bajo tak lama setelah pukul 7 pagi, mesin diesel Typhoon menyala saat kami melewati perahu nelayan terakhir di dekat Siaba Besar. Haluan kapal sedikit terangkat saat memasuki perairan terbuka, membelah ombak dengan irama yang terasa lebih seperti denyut daripada getaran. Saya berdiri di dek depan, tangan memegang pegangan stainless steel, memandangi punggungan savana kering Pulau Komodo yang semakin tajam di langit. Ini bukan pelayaran santai — ini pergerakan yang terarah, penuh tujuan dan efisien, jenis perjalanan yang membuat jarak terasa bisa ditaklukkan.
Pukul 8.30, kami sudah berlabuh di perairan dangkal dekat Kelor. Kru sudah menurunkan tender sebelum mesin dimatikan, mengantar kami 50 meter terakhir ke pantai yang begitu putih hingga memantulkan cahaya ke bayangan lambung kapal. Tidak ada kapal lain terlihat. Kami snorkeling di sekelilingnya, di mana gundukan karang menjulang seperti kuil bawah laut dari dasar pasir, dan melihat ikan kakaktua sebesar piring makan berputar-putar di arus. Typhoon tetap dekat, berpindah posisi diam-diam untuk menjaga kami di perairan tenang saat pasang surut.
Makan siang berupa ikan mahi-mahi panggang dengan sambal dan salad pepaya, disajikan di dek dengan air kelapa dingin yang dituang langsung dari tempurungnya. Dapur kapal memang kecil tapi tersusun rapi — tidak ada ruang terbuang, hanya satu koki yang memasak dengan cekatan sementara juru mudi mengawasi tali jangkar. Kami makan di bawah tenda kanvas yang membentuk garis-garis bayangan diagonal di atas dek jati. Siang harinya, kami berpindah ke Pink Beach, tempat kru mengatur waktu pendaratan di antara gelombang, mendorong tender masuk dengan cukup momentum untuk menaiki buih ombak ke daratan.
Snorkeling di Manta Point menyusul. Typhoon berlabuh di sisi timur, di hulu dari stasiun pembersihan. Kami masuk dari tangga belakang, dan dalam hitungan menit, dua ekor manta — masing-masing lebar sayapnya minimal tiga meter — meluncur di bawah kami, siripnya mengembang saat melewati tonjolan terumbu. Kembali ke kapal, seseorang menyerahkan handuk tanpa diminta. Perhatian semacam ini — tenang, antisipatif — mengalir dalam setiap gerakan kru sepanjang hari. Mereka tahu kapan harus berbicara, kapan harus mundur.
Kami menutup hari di Pulau Kanawa, saat matahari menggantung tepat di atas bibir gunung berapi saat kami berputar mengelilingi area berlabuh. Kru menyalakan satu lampu sorot, cukup untuk melihat garis air saat kami kembali ke Labuan Bajo. Di dalam kabin, AC berdengung stabil. Di luar, bintang-bintang di atas Rinca mulai tampak. Typhoon tidak berlabuh semalaman, tapi selama enam jam itu, kapal ini membuat taman nasional terasa milik kami sepenuhnya.










