About Derya
Malam pertama menjelaskan semuanya. Saat matahari tenggelam di balik siluet terjal Kelor, kru menata hidangan ikan bakar dan salad pepaya di dek buritan. Saya duduk bersila di tikar berbantal, angin stabil, satu-satunya suara adalah dentingan lembut peralatan makan dan ombak karang jauh. Hanya enam dari kami di perjalanan itu—jauh di bawah kapasitas 13 tamu Derya—jadi seluruh sisi kanan terasa milik saya sendiri. Satu kabin utama, tersembunyi di buritan, memiliki kisi ventilasi lebar miring untuk menangkap angin malam tanpa mengorbankan privasi.
Derya adalah 22 meter kapal phinisi kayu tanpa embel-embel yang dibangun untuk fungsi, bukan kilau. Salonnya ringkas namun ditata dengan cerdas: meja lipat untuk makan, kipas langit-langit yang benar-benar menggerakkan udara, dan laci penyimpanan di bawah kursi bangku. Pukul 05:30 di hari kedua, kru sudah diam-diam memindahkan jangkar dari Pink Beach ke Padar, memposisikan haluan sempurna untuk foto matahari terbit tanpa membangunkan tamu. Saya mengamati bagaimana mereka memakai isyarat tangan saat transit subuh—tanpa teriakan, hanya koordinasi senyap.
Ritme perjalanan 3H2M terasa sudah terpoles rapi. Setelah pendakian Padar, kami mendinginkan diri dengan snorkel panjang di Manta Point, tempat arus menyapu kami lembut di sepanjang tepi terumbu. Seekor manta berputar dekat, ujung sayapnya menyapu dalam jarak satu meter dari sirip saya. Kru Derya melempar tangga tali di tengah arus, menghitung waktu agar kami bisa naik tanpa melawan ombak. Kemudian di Kanawa, mereka berlabuh di kanal pasir antara dua terumbu, membiarkan kami berenang bolak-balik tanpa bayangan kapal menutupi.
Yang menonjol bukan kemewahan, melainkan perhatian. Koki ingat siapa yang minum kopi hitam. Awak pertama menyimpan tali snorkel cadangan di tas keringnya. Dan saat angin sore menghantam dari Sebayur, kapten menyesuaikan arah sedikit untuk memecah ombak, mengurangi gulingan. Di Kalong, kami menyaksikan kelelawar menggulung ke dalam kegelapan dari dek jemur, berbaring di atas bantalan lipat saat langit berubah nila.
Pada pagi terakhir, kami berlabuh di Taka Makassar. Gosong pasir muncul saat surut, dan perahu kecil Derya mengantar kami ke sana. Tidak terburu-buru, tidak ramai—hanya waktu untuk mengarungi air selutut, mengamati kepiting kecil menyelinap di antara pecahan karang. Kembali ke kapal, kru menyajikan kelapa segar dan pisang goreng sebelum merapikan peralatan untuk kembali ke Labuan Bajo. Tidak mencolok, tetapi rapat, efisien, dan selaras dengan denyut pulau. Inilah liveaboard komodo yang mengutamakan substansi—bukan embel-embel charter kapal VVIP, melainkan kapal phinisi yang dijalankan dengan jujur di Taman Nasional Komodo.










